Minggu, 14 Juni 2015
Analisis current ratio, acid test ratio, solvabilitas, dan rentabilitas
PT. GUDANG GARAM Tbk.
A. CURRENT RATIO
(Aktiva Lancar : kewajiban lancar) x 100%
= (17.955.845 : 9.437.259) x 100%
= 190,2 %
B. ACID TEST RATIO
((Aktiva lancar – persediaan) : kewajiban lancar) x 100%
= ((17.955.845 – 14.016.039) : 9.437.259) x 100%
= 41,7 %
C. SOLVABILITAS
Kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi segala kewajiban finansialnya pada saat perubahan tersebut dilikuidasi .
· Total debt to equity ratio
(Total Hutang : Modal sendiri) x 100%
= (10.373.890 : 1.015.744) x 100%
= 1021,3 %
· Total debt to capital assets
(Total Hutang : Total Aktiva) x 100 %
= (10.373.890 : 24.904.022) x 100 %
= 41,6 %
· Long Term Debt to Equity ratio
(Hutang Jangka Panjang : Modal Sendiri) x 100%
= (921.817 : 1.015.744) x 100%
= 90,7 %
D. RENTABILITAS
Suatu perusahaan menunjukkan suatu perbandingan antara laba dengan aktiva/modal yang menghasilkan laba tersebut.
(L : M) X 100 %
= (1.527.107 : 14.530.132) X 100%
= 10,5 %
· Gross Profit Margin
(Laba kotor : Penjualan netto) x 100%
= (2.427.250 : 15.056.347) x 100%
=16,1 %
· Operating Ratio
(( HPP + Biaya Administrasi ) : Penjualan netto ) x 100%
= (( 12.629.097 + 415.876 ) : 15.056.347 ) x 100%
= 86,6%
· Net Profit Margin
( Laba setelah pajak : Penjualan netto ) x 100%
=(891.358 : 15.056.347) x 100%
=5,9 %
· Return On Investment
( Laba setelah pajak : Jumlah Aktiva ) x 100%
= (891.358 : 24.904.022) x 100 %
Rabu, 10 Juni 2015
Tau kah kamu...???
Berbagi pengetahuan dan wawasan
Mahram
4 Presiden Indonesia
Fakta Sapi
Planet Mars
Kenapa cincin tunangan ditaruh di jari manis sebelah kiri..?
Faktor penting suatu hubungan
Bus sekolah
Kenapa Bus sekolah berwarna Kuning?
Sinkronisasi hati. :D
By : @Infia_fact
Please comment.
Selasa, 12 Mei 2015
NOMOR - NOMOR DARURAT SEGERA HUBUNGI KETIKA . . . .
Anda sedih -> Al-Qur'an 2 : 25
Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman
dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir
sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezeki buah-buahan dalam
surga-surga itu, mereka mengatakan: "Inilah yang pernah diberikan kepada
kami dahulu". Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di
dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya.
Anda Berdosa -> Al-Qur'an 39 : 53
Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas
terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.
Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang
Anda mencari teman -> Al-Qur'an 2 : 257
Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan
mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang
kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada
cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka
kekal di dalamnya.
Anda mencari kedamaian -> Al-Qur'an 5 : 16
Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang
mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah
mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang
benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.
Anda Tertekan -> Al-Qur'an 13 : 28
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi
tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah
hati menjadi tenteram.
Anda mencari cinta dan ketenangan -> Al-Qur'an 30 : 21
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia
menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung
dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan
sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda
bagi kaum yang berfikir.
Anda merindukan teman -> Al-Qur'an 50 : 16
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui
apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat
lehernya.
Anda merasa tak dihargai -> Al-Qur'an 76 : 22
Sesungguhnya ini adalah balasan untukmu, dan usahamu adalah
disyukuri (diberi balasan).
Anda merasa seperti pecundang -> Al-Qur'an 12 : 87
Hai anak-anakku, pergilah kamu,
maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa
dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan
kaum yang kafir".
Anda membutuhkan jaminan ganda -> Al-Qur'an 15 : 43
Dan sesungguhnya Jahanam itu
benar-benar tempat yang telah diancamkan kepada mereka (pengikut-pengikut
setan) semuanya.
Anda butuh pembebasan dari ketakutan -> Al-Qur'an 3 : 135
Dan (juga) orang-orang yang
apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat
akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang
dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan
perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.
Anda bosan kesusahan / kesulitan -> Al-Qur'an 94 : 5
Karena sesungguhnya sesudah
kesulitan itu ada kemudahan,
Ada orang yang sombong menantang anda -> Al-Qur'an 25 : 63
Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha
Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati
dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang
baik.
Minggu, 10 Mei 2015
ARTI LAMBANG SEGITIGA YANG BERADA DIBAWAH KEMASAN BOTOL PLASTIK
Coba lihat tanda segitiga pada bawah kemasan botol plastik, tau ngga gimana maksudnya??
ini diaa maksudnya...
Tanda di bawah botol itu merupakan kode yg dikeluarkan The Society of Plastic Industry pada tahun 1998 di Amerika Serikat dan diikuti oleh lembaga-lembaga pengembangan sistem kode, seperti ISO (International Organization for Standardization).
Secara umum tanda pengenal plastik tersebut berciri-ciri :
1. Berada atau terletak di bagian bawah,
2. Berbentuk segitiga,
3. Di dalam segitiga tersebut terdapat angka,
4. Serta nama jenis plastik di bawah segitiga.
Berikut arti dari istilah-istilah tersebut :
1. PETE/PET

Tanda ini biasanya tertera logo daur ulang dengan angka 1 di tengahnya serta tulisan PETE atau PET (polyethylene terephthalate) di bawah segitiga. Biasa dipakai untuk botol plastik, berwarna jernih/transparan/tembus pandang seperti botol air mineral, botol jus, dan hampir semua botol minuman lainnya.
Botol jenis PETE/PET ini disarankan hanya untuk sekali pakai. Bila terlalu sering dipakai, apalagi digunakan untuk menyimpan air hangat apalagi panas, akan mengakibatkan lapisan polimer pada botol tersebut akan meleleh dan mengeluarkan zat karsinogenik yang dapat menyebabkan kanker dalam jangka panjang.
Bahan PETE ini pun berbahaya bagi pekerja yang berhubungan dengan pengolahan maupun botol daur ulang botol PETE. Pembuatan PETE menggunakan senyawa antimoni trioksida. Senyawa ini dapat masuk ke dalam tubuh melalui sistem pernapasan dengan menghirup udara yang mengandung senyawa tersebut.
Seringnya menghirup senyawa ini dapat mengakibatkan iritasi kulit dan saluran pernapasan. Bagi wanita, senyawa ini meningkatkan masalah menstruasi dan keguguran. Bila melahirkan pun, anak mereka kemungkinan besar akan mengalami pertumbuhan yang lambat hingga usia 12 bulan.
Mayoritas bahan PETE di dunia digunakan untuk serat sintesis dan bahan dasar botol kemasan. Di dalam pertekstilan, PETE biasa disebut dengan polyester.
2. HDPE

Pada bagian bawah kemasan botol plastik, tertera logo daur ulang dengan angka 2 di tengahnya, serta tulisan HDPE (high density polyethylene) di bawah segitiga. Biasa dipakai untuk botol susu yang berwarna putih susu, Tupperware, galon air minum, kursi lipat dan lain-lain.
Botol plastik jenis HDPE memiliki sifat bahan yang lebih kuat, keras, buram dan lebih tahan terhadap suhu tinggi. Merupakan salah satu bahan plastik yang aman untuk digunakan karena kemampuan untuk mencegah reaksi kimia antara kemasan plastik berbahan HDPE dengan makanan/minuman yang dikemasnya.
Sama seperti PETE, HDPE juga disarankan hanya untuk sekali pemakaian karena pelepasan senyawa antimoni trioksida terus meningkat seiring waktu.
3. V/PVC

Tertulis (terkadang berwarna merah) dengan angka 3 di tengahnya, serta tulisan V.
V itu berarti PVC (polyvinyl chloride), yaitu jenis plastik yang paling sulit didaur ulang. Ini bisa ditemukan pada plastik pembungkus (cling wrap) dan botol-botol.
Reaksi yang terjadi antara PVC dengan makanan yang dikemas dengan plastik ini berpotensi berbahaya untuk ginjal, hati dan berat badan. PVC mengandung DEHA (diethylhydroxylamine) yang dapat bereaksi dengan makanan yang dikemas dengan plastik berbahan PVC ini saat bersentuhan langsung dengan makanan tersebut karena DEHA ini lumer pada suhu -15°C.
4. LDPE

Logo daur ulang dengan angka 4 di tengahnya, serta tulisan LDPE. LDPE (low density polyethylene) yaitu plastik tipe cokelat (thermoplastic, dibuat dari minyak bumi), biasa dipakai untuk tempat makanan, plastik kemasan, dan botol-botol yang lembek.
Sifat mekanis jenis LDPE ini adalah kuat, tembus pandang, fleksibel dan permukaan agak berlemak, pada suhu 60 derajat sangat resisten terhadap reaksi kimia, daya proteksi terhadap uap air tergolong baik, dapat didaur ulang serta baik untuk barang-barang yang memerlukan fleksibelitas tapi kuat.
Barang berbahan LDPE ini sulit dihancurkan, tetapi tetap baik untuk tempat makanan karena sulit bereaksi secara kimiawi dengan makanan yang dikemas dengan bahan ini.
5. PP

Tertera logo daur ulang dengan angka 5 di tengahnya, serta tulisan PP. Karakteristik adalah biasa botol transparan yang tidak jernih atau berawan. Polipropilen lebih kuat dan ringan dengan daya tembus uap yang rendah, ketahanan yang baik terhadap lemak, stabil terhadap suhu tinggi dan cukup mengkilap.
Jenis PP (polypropylene) ini adalah pilihan bahan plastik terbaik, terutama untuk tempat makanan dan minuman seperti tempat menyimpan makanan, botol minum dan terpenting botol minum untuk bayi.
Carilah dengan kode angka 5 bila membeli barang berbahan plastik untuk menyimpan kemasan berbagai makanan dan minuman.
6. PS

Tertera logo daur ulang dengan angka 6 di tengahnya, serta tulisan PS. Biasa dipakai sebagai bahan tempat makan styrofoam, tempat minum sekali pakai, dan lain-lain. Polystyrene merupakan polimer aromatik yang dapat mengeluarkan bahan styrene ke dalam makanan ketika makanan tersebut bersentuhan.
Selain tempat makanan, styrene juga bisa didapatkan dari asap rokok, asap kendaraan dan bahan konstruksi gedung. Bahan ini harus dihindari, karena selain berbahaya untuk kesehatan otak, mengganggu hormon estrogen pada wanita yang berakibat pada masalah reproduksi, dan pertumbuhan dan sistem syaraf, juga karena bahan ini sulit didaur ulang. Bila didaur ulang, bahan ini memerlukan proses yang sangat panjang dan lama.
Bahan ini dapat dikenali dengan kode angka 6. Namun, bila tidak tertera kode angka tersebut pada kemasan plastik, bahan ini dapat dikenali dengan cara dibakar (cara terakhir dan sebaiknya dihindari). Ketika dibakar, bahan ini akan mengeluarkan api berwarna kuning-jingga dan meninggalkan jelaga.
7. OTHER

Tertera logo daur ulang dengan angka 7 di tengahnya, serta tulisan OTHER. Untuk jenis plastik 7 Other ini ada 4 macam, yaitu:
1. SAN – styrene acrylonitrile,
2. ABS – acrylonitrile butadiene styrene,
3. PC – polycarbonate,
4. Nylon
Dapat dtemukan pada tempat makanan dan minuman seperti botol minum olahraga, suku cadang mobil, alat rumah tangga, komputer, alat elektronik dan plastik kemasan.
SAN n ABS memiliki resistensi yang tinggi terhadap reaksi kimia n suhu, kekuatan, kekakuan dan tingkat kekerasan yg telah ditingkatkan.
Biasanya SAN terdapat pada mangkuk mixer, pembungkus termos, piring, alat makan, penyaring kopi dan sikat gigi.
Sedangkan ABS biasanya digunakan sebagai bahan mainan lego dan pipa. Bahan-bahan ini merupakan salah satu bahan plastik yang sangat baik untuk digunakan dalam kemasan makanan ataupun minuman.
PC (polycarbonate) dpt ditemukan pada botol susu bayi, gelas anak batita (sippy cup), botol minum polikarbonat dan kaleng kemasan makanan serta minuman, termasuk kaleng susu formula.
Bahan ini dapat mengeluarkan bahan utamanya yaitu Bisphenol-A ke dalam makanan n minuman yang berpotensi merusak sistem hormon, kromosom pada ovarium, penurunan produksi sperma, dan mengubah fungsi imunitas.
Pemakaian dianjurkan tidak digunakan untuk tempat makanan ataupun minuman. Ironisnya botol susu sangat mungkin mengalami proses pemanasan. Entah itu untuk tujuan sterilisasi dengan cara merebus, dipanaskan dengan microwave atau dituangi air panas.
Kesimpulan yang didapat dari tanda klasifikasi plastik tersebut:
Hati-hati dalam menggunakan plastik, khususnya kode 1, 3, 6 dan 7 (PC), seluruhnya memiliki bahaya secara kimiawi. Gunakan hanya sekali pakai!
Cukup aman bila menggunakan plastik dengan kode 2, 4, 5 dan 7 (SAN atau ABS)
Bagi orang tua yang masih memerlukan botol susu untuk putra atau putrinya:
Pilih dan gunakan botol susu bayi berbahan kaca, atau plastik jenis 4 atau 5.
Gunakanlah cangkir bayi berbahan stainless steel, atau plastik jenis 4 atau 5.
Untuk dot, gunakanlah yang berbahan silikon, karena tidak akan mengeluarkan zat karsinogenik sebagaimana pada dot berbahan latex.
Cegah penggunaan botol susu bayi dan cangkir bayi (dengan lubang penghisapnya) berbahan jenis 7 PC (polycarbonate),
Jika penggunaan plastik berbahan polycarbonate tidak dapat dicegah, janganlah menyimpan air minum ataupun makanan dalam keadaan panas.
Hindari penggunaan botol plastik untuk menyimpan air minum. Biasanya digunakan untuk tempat air putih di dalam kulkas.
Jika penggunaan botol plastik berbahan PET (kode 1) dan HDPE (kode 2) tidak dapat dicegah, gunakan hanya sekali pakai dan segera dihabiskan. Gantilah dengan botol stainless steel atau gelas/kaca.
#By : Berbagai Sumber
ini diaa maksudnya...
Tanda di bawah botol itu merupakan kode yg dikeluarkan The Society of Plastic Industry pada tahun 1998 di Amerika Serikat dan diikuti oleh lembaga-lembaga pengembangan sistem kode, seperti ISO (International Organization for Standardization).
Secara umum tanda pengenal plastik tersebut berciri-ciri :
1. Berada atau terletak di bagian bawah,
2. Berbentuk segitiga,
3. Di dalam segitiga tersebut terdapat angka,
4. Serta nama jenis plastik di bawah segitiga.
Berikut arti dari istilah-istilah tersebut :
1. PETE/PET

Tanda ini biasanya tertera logo daur ulang dengan angka 1 di tengahnya serta tulisan PETE atau PET (polyethylene terephthalate) di bawah segitiga. Biasa dipakai untuk botol plastik, berwarna jernih/transparan/tembus pandang seperti botol air mineral, botol jus, dan hampir semua botol minuman lainnya.
Botol jenis PETE/PET ini disarankan hanya untuk sekali pakai. Bila terlalu sering dipakai, apalagi digunakan untuk menyimpan air hangat apalagi panas, akan mengakibatkan lapisan polimer pada botol tersebut akan meleleh dan mengeluarkan zat karsinogenik yang dapat menyebabkan kanker dalam jangka panjang.
Bahan PETE ini pun berbahaya bagi pekerja yang berhubungan dengan pengolahan maupun botol daur ulang botol PETE. Pembuatan PETE menggunakan senyawa antimoni trioksida. Senyawa ini dapat masuk ke dalam tubuh melalui sistem pernapasan dengan menghirup udara yang mengandung senyawa tersebut.
Seringnya menghirup senyawa ini dapat mengakibatkan iritasi kulit dan saluran pernapasan. Bagi wanita, senyawa ini meningkatkan masalah menstruasi dan keguguran. Bila melahirkan pun, anak mereka kemungkinan besar akan mengalami pertumbuhan yang lambat hingga usia 12 bulan.
Mayoritas bahan PETE di dunia digunakan untuk serat sintesis dan bahan dasar botol kemasan. Di dalam pertekstilan, PETE biasa disebut dengan polyester.
2. HDPE

Pada bagian bawah kemasan botol plastik, tertera logo daur ulang dengan angka 2 di tengahnya, serta tulisan HDPE (high density polyethylene) di bawah segitiga. Biasa dipakai untuk botol susu yang berwarna putih susu, Tupperware, galon air minum, kursi lipat dan lain-lain.
Botol plastik jenis HDPE memiliki sifat bahan yang lebih kuat, keras, buram dan lebih tahan terhadap suhu tinggi. Merupakan salah satu bahan plastik yang aman untuk digunakan karena kemampuan untuk mencegah reaksi kimia antara kemasan plastik berbahan HDPE dengan makanan/minuman yang dikemasnya.
Sama seperti PETE, HDPE juga disarankan hanya untuk sekali pemakaian karena pelepasan senyawa antimoni trioksida terus meningkat seiring waktu.
3. V/PVC

Tertulis (terkadang berwarna merah) dengan angka 3 di tengahnya, serta tulisan V.
V itu berarti PVC (polyvinyl chloride), yaitu jenis plastik yang paling sulit didaur ulang. Ini bisa ditemukan pada plastik pembungkus (cling wrap) dan botol-botol.
Reaksi yang terjadi antara PVC dengan makanan yang dikemas dengan plastik ini berpotensi berbahaya untuk ginjal, hati dan berat badan. PVC mengandung DEHA (diethylhydroxylamine) yang dapat bereaksi dengan makanan yang dikemas dengan plastik berbahan PVC ini saat bersentuhan langsung dengan makanan tersebut karena DEHA ini lumer pada suhu -15°C.
4. LDPE

Logo daur ulang dengan angka 4 di tengahnya, serta tulisan LDPE. LDPE (low density polyethylene) yaitu plastik tipe cokelat (thermoplastic, dibuat dari minyak bumi), biasa dipakai untuk tempat makanan, plastik kemasan, dan botol-botol yang lembek.
Sifat mekanis jenis LDPE ini adalah kuat, tembus pandang, fleksibel dan permukaan agak berlemak, pada suhu 60 derajat sangat resisten terhadap reaksi kimia, daya proteksi terhadap uap air tergolong baik, dapat didaur ulang serta baik untuk barang-barang yang memerlukan fleksibelitas tapi kuat.
Barang berbahan LDPE ini sulit dihancurkan, tetapi tetap baik untuk tempat makanan karena sulit bereaksi secara kimiawi dengan makanan yang dikemas dengan bahan ini.
5. PP

Tertera logo daur ulang dengan angka 5 di tengahnya, serta tulisan PP. Karakteristik adalah biasa botol transparan yang tidak jernih atau berawan. Polipropilen lebih kuat dan ringan dengan daya tembus uap yang rendah, ketahanan yang baik terhadap lemak, stabil terhadap suhu tinggi dan cukup mengkilap.
Jenis PP (polypropylene) ini adalah pilihan bahan plastik terbaik, terutama untuk tempat makanan dan minuman seperti tempat menyimpan makanan, botol minum dan terpenting botol minum untuk bayi.
Carilah dengan kode angka 5 bila membeli barang berbahan plastik untuk menyimpan kemasan berbagai makanan dan minuman.
6. PS

Tertera logo daur ulang dengan angka 6 di tengahnya, serta tulisan PS. Biasa dipakai sebagai bahan tempat makan styrofoam, tempat minum sekali pakai, dan lain-lain. Polystyrene merupakan polimer aromatik yang dapat mengeluarkan bahan styrene ke dalam makanan ketika makanan tersebut bersentuhan.
Selain tempat makanan, styrene juga bisa didapatkan dari asap rokok, asap kendaraan dan bahan konstruksi gedung. Bahan ini harus dihindari, karena selain berbahaya untuk kesehatan otak, mengganggu hormon estrogen pada wanita yang berakibat pada masalah reproduksi, dan pertumbuhan dan sistem syaraf, juga karena bahan ini sulit didaur ulang. Bila didaur ulang, bahan ini memerlukan proses yang sangat panjang dan lama.
Bahan ini dapat dikenali dengan kode angka 6. Namun, bila tidak tertera kode angka tersebut pada kemasan plastik, bahan ini dapat dikenali dengan cara dibakar (cara terakhir dan sebaiknya dihindari). Ketika dibakar, bahan ini akan mengeluarkan api berwarna kuning-jingga dan meninggalkan jelaga.
7. OTHER

Tertera logo daur ulang dengan angka 7 di tengahnya, serta tulisan OTHER. Untuk jenis plastik 7 Other ini ada 4 macam, yaitu:
1. SAN – styrene acrylonitrile,
2. ABS – acrylonitrile butadiene styrene,
3. PC – polycarbonate,
4. Nylon
Dapat dtemukan pada tempat makanan dan minuman seperti botol minum olahraga, suku cadang mobil, alat rumah tangga, komputer, alat elektronik dan plastik kemasan.
SAN n ABS memiliki resistensi yang tinggi terhadap reaksi kimia n suhu, kekuatan, kekakuan dan tingkat kekerasan yg telah ditingkatkan.
Biasanya SAN terdapat pada mangkuk mixer, pembungkus termos, piring, alat makan, penyaring kopi dan sikat gigi.
Sedangkan ABS biasanya digunakan sebagai bahan mainan lego dan pipa. Bahan-bahan ini merupakan salah satu bahan plastik yang sangat baik untuk digunakan dalam kemasan makanan ataupun minuman.
PC (polycarbonate) dpt ditemukan pada botol susu bayi, gelas anak batita (sippy cup), botol minum polikarbonat dan kaleng kemasan makanan serta minuman, termasuk kaleng susu formula.
Bahan ini dapat mengeluarkan bahan utamanya yaitu Bisphenol-A ke dalam makanan n minuman yang berpotensi merusak sistem hormon, kromosom pada ovarium, penurunan produksi sperma, dan mengubah fungsi imunitas.
Pemakaian dianjurkan tidak digunakan untuk tempat makanan ataupun minuman. Ironisnya botol susu sangat mungkin mengalami proses pemanasan. Entah itu untuk tujuan sterilisasi dengan cara merebus, dipanaskan dengan microwave atau dituangi air panas.
Kesimpulan yang didapat dari tanda klasifikasi plastik tersebut:
Hati-hati dalam menggunakan plastik, khususnya kode 1, 3, 6 dan 7 (PC), seluruhnya memiliki bahaya secara kimiawi. Gunakan hanya sekali pakai!
Cukup aman bila menggunakan plastik dengan kode 2, 4, 5 dan 7 (SAN atau ABS)
Bagi orang tua yang masih memerlukan botol susu untuk putra atau putrinya:
Pilih dan gunakan botol susu bayi berbahan kaca, atau plastik jenis 4 atau 5.
Gunakanlah cangkir bayi berbahan stainless steel, atau plastik jenis 4 atau 5.
Untuk dot, gunakanlah yang berbahan silikon, karena tidak akan mengeluarkan zat karsinogenik sebagaimana pada dot berbahan latex.
Cegah penggunaan botol susu bayi dan cangkir bayi (dengan lubang penghisapnya) berbahan jenis 7 PC (polycarbonate),
Jika penggunaan plastik berbahan polycarbonate tidak dapat dicegah, janganlah menyimpan air minum ataupun makanan dalam keadaan panas.
Hindari penggunaan botol plastik untuk menyimpan air minum. Biasanya digunakan untuk tempat air putih di dalam kulkas.
Jika penggunaan botol plastik berbahan PET (kode 1) dan HDPE (kode 2) tidak dapat dicegah, gunakan hanya sekali pakai dan segera dihabiskan. Gantilah dengan botol stainless steel atau gelas/kaca.
#By : Berbagai Sumber
Selasa, 05 Mei 2015
Rabu, 22 April 2015
ANALISIS RASIO KEUANGAN APBD
ANALISIS
RASIO KEUANGAN APBD
Analisis Rasio APBD
Analisis
keuangan adalah usaha mengindetifikasi ciri-ciri keunagan berdasarkan laporan
keuangan yang tersedia. Penggunaan analisis rasio pada sector public khususnya
terhadap APBD belum banyak dilakukan sehingga secara teori belum ada
kesepakatan secara bulat mengenai kaidah dan pengukurannya.
Kegunaan Analisis Ratio pada Sektor Publik (APBD) :
-
Menilai kemandirian
keuangan daerah dalam membiayai penyelenggaraan otonomi dearah
-
Mengukur efektifitas
dan efisiensi dalam merealisasikan pendapatan daerah
-
Mengukur sejauhmana
aktivitas pemerintah daerah dalam membelanjakan pendapatan derahnya
-
Mengukur kontribusi
masing-masing sumber pendapatan dalam pendapatan daerah
-
Melihat
pertumbuhan/perkembangan perolehan pendapatan dan pengeluaran yang dilakukan selama periode waktu tertentu
Analisis Rasio dilakukan dengan :
-
Membandingkan hasil
yang dicapai dari
Suatu
periode dibandingkan dengan periode sebelumnya sehingga dapat diketahui
bagaimana kecenderungan yang terjadi
-
Membandingkan dengan
rasio keuangan
Daerah
lain yang etrdekat ataupun yang potensi daerahnya relative sama untuk dilihat
bagaimana posisi ratio keuangan pemerintah dearah tersebut terhadap pemerintah
daerah lain .
Pihak-pihak yang berkepentingan dengan ratio
keuangan pada APBD :
-
DPRD
-
Pihak ekskutif sebagai
landasan dalam menyusun APBD berikutnya
-
Pemerintah pusat
/Propinsi sebagai bahan masukan dalam pembinaan pelaksanaan pengelolaan
keuangan daerah .
-
Masyarakat dan kreditor
, sebagai pihak yang akna turut memiliki saham pemerintah daerah , bersedia
memberi pinjaman ataupun member obligasi.
Analisis Rasio Keuangan terdiri dari :
1.
Derajat
Desentralisasi
Derajat Desentralisasi dihitung berdasarkan
perbandingan antara jumlah Pendapatan Asli Daerah dengan total penerimaan daerah .Rasio ini
menunjukkan derajat kontribusi PAD
terhadap total penerimaan daerah . Semakin tinggi kontribusi PAD maka semakin
tinggi kemampuan pemerinah daerah dalam penyelenggraaan desentralisasi .Rasio
dirumuskan sebagai berikut :
Derajat
Desentralisasi = Pendapatan Asli Daerah x 100 %
Total pendapatan daerah
2.
Rasio
ketergantungan Keuangan Daerah
Rasio ketergantungan keuangan daerah dihitung dengan
cara membandingkan jumlah pendapatan transfer yang diterima oleh penerimaan
daerah dengan total penerimaan daerah . Semakin tinggi rasio ini maka semakin
besar tingkat ketergantungan pemerintah daerah terhadap pemerintah pusat atau
pemerintahan provinsi . Rasio ini dirumuskan sebagai berikut :
Rasio
Ketregantungan keuangan Daerah = Pendapatan Transfer x 100%
Total
Pendapatan Daerah
3. Rasio kemandirian
keuangan Daerah
Rasio kemandirian keuangan daerah dihitung dengancara
membandingkan jumlah penerimaan Pendapatan Asli Daerah dibagi dengan jumlah
pendapatan transfer dari pemerintah pusat dan provinsi serta pinjaman daerah.
Semakin tinggi angka rasio ini menunjukan pemerintah daerah semakin tinggi
kemandirian keuangan daerahnya.
Rasio
Kemandirian Dearah = Pendapatan Asli Daerah x 100 %
Transfer
pusat + propinsi +pinjaman
4.
Rasio
Efektivitas dan Efisiensi pendapatan Asli Daerah
Rasio efektivitas PAD dihitung dengan cara membandingkan
realisasi penerimaan PAD dengan target penerimaan PAD dengan target penerimaan
PAD (dianggarkan ). Rasio ini dirumuskan sebagai berikut :
Rasio
Efektivitas PAD = Realisasi Penerimaan Pendapatan Asli Daerah x
100%
Target
penerimaan PAD
Rasio
efektivitas PADmenunjukkan kemampuan pemerintah daerah dalam memobilisasi
peneriman PAD sesuai dengan yang ditargetkan . Secara umum , nilai efektivitas
PAD depat dikatagorikan sebagai berikut :
-
Sangat efektif :
.100 %
-
Efektif : 100 %
-
Cukup Efektif : 90 % - 99 %
-
Kurang Efektif : 75 % - 89 %
-
Tidak Efektif :
< 75 %
Untuk
mengukur kinerja pemerintah daerah dalam memobilisasi penerimaan PAD ,
indicator rasio efektivitasnya PAD saja belum cukup, sebab meskipun jika
dilihat dari rasio efektivitasnya sudah baik tetapi bila ternyata biaya untuk
mencapai target tersebut sngat besar , maka berartipemungutan PAD tersebut
tidak efisien . Oleh karena itu perlu pula dihitung rasio efisiensi PAD . Rasio
ini dihitung dengan cara membandingkan biaya yang dikeluarkan pemerintah daerah
untuk memperoleh PAD dengan realisasi penerimaan PAD . Untuk dapat menghitung
rasio efisiensi PAD ini diperlukan data tambahan yang tidak tersedia di Laporan
Realisasi Angggaran , yaitu data tentang biaya pemungutan PAD
Rasio
Efisiensi PAD = Biaya pemerolehan Pendaptan Asli Daerah x
100%
Realisasi
Penerimaan Pendaptan Asl Daerah
Semakin
kecil nilai rasio ini maka semakin efisien kinerja pemerintah deerah dalam
melakukan pemungutan Pendapatan Pandapatan Asli Daerah . Secara umum , nilai
efisiensi PAD dapat dikatagorikan sebagai berikut :
-
Sangat efektif :
< 10 %
-
Efektif : 10 % - 20 %
-
Cukup Efektif : 21 % - 30 %
-
Kurang Efektif : 31 % - 40 %
-
Tidak Efektif :
> 40 %
5.
Rasio
Efektivitas dan Efisiensi Pajak Daerah
Selain analisis rasio efektivitas dan efisiensi PAD
, kita juga dapat melakukan analisis efektivitas dan efisiensi pajak daerah .
Rasio
Efektivitas Pajak Daerah = Realisasi
Penerimaan Pajak Daerah x 100 %
Target Penerimaan Pajak Daerah
Rasio
efektivitas pajak dearah menunjukkan kemampuan pemerintah daerah dalam
mengumpulkan pajak daerah sesuai sengan jumlah penerimaan pajak daerah yang
ditargetkan . Rasio efektivitas pajak daerah dianggap baik apabila rasio ini
mencapai angka minimal 1 atau 100%
Rasio
Efisiensi Pajak Derah = Biaya
Pemungutan Pajak Daerah x 100 %
Realisasi Penerimaan Pajak Daerah
Kinerja
pemerintah daerah dalam melakukan pemungutan pajak daerah dikatagorikan efisien
apabila rasio yang dicapai kurang dari 10 % ( semakin kecil rasio ini semakin
baik ). Sama halnya dengan analisis efisiensi PAD , untuk dapat menghitung
rasio efisiensi pajak deerah diperlukan data tentang biaya pemungutan pajak .
Data ini bisa diperoleh dari Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD) atau Kantor Pelayanan Pajak
Daerah ( KPPD).
Contoh
:
Perhitungan
rasio efektivitas dan efisiensi Pendaptan Asli Daerah dan Pajak daerah yang
dicapai oleh Pemerintahan Daerah Kabupaten Nagarakartagama .
Biaya Pemungutan , Target , dan Ralisasi Penerimaan Pajak dan
Retribusi Daerah Tahun Anggaran 2008 dan 2009
Berdsarkan
perhitungan tersebut , maka kinerja pemerintah daerah dalam mengumpulkan
pendapatan daerah cukup bagus . Hal itu ditunjukkan dengan adanya peningkatan
penerimaan pendapatan , rasio efektivitas pendapatan yang lebih besar dari 100%
dan nilai efisiensi di bawah 10 % . Selain itu , nilai rasio efisiensi tersebut
juga lebih kecil dari rasio efisiensi yang di anggarkan.
6.
Derajat
kontribusi BUMD
Rasio ini bermnfaat untuk mengetahui tingkat
kontribusi perusahaan daerah mendukung
pendaptan derah .Rasio ini dihitung dengan cara membanding penerimaaan daerah
dari hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan dengan total Penerimaan
Pendapatan Asli Daerah.
Derajat
Kontribusi BUMD = Penerimaan Bagian Laba BUMD x 100%
Penerimaan PAD
Debt Service
Coverage Ratio (DSCR)
DSCR sangat diperlukan apabila
pemerintah daerah berencana untuk mengadakan utang jangka panjang . DSCR
merupakan rasio untuk mengukur kemampuan pemerintah daerah dalam membayar
kembali pinjamna daerah . Rasio ini dirumuskan sebagai berikut :
DSCR = (
PAD + ( DBH – DBHDR ) + DAU ) – Belanja Wajib
Angsuran Pokok Pinjaman + Bunga + Biaya Lain
Ket.:
PAD :
Pajak Asli Daerah
DAU : dana Alokaasi Umum
DBH :
Dana Bagi Hasil yang merupakan bagian dari PBB , BPHTB , dan bagi hasil SDA
DBHDR :Dana
Bagi Hasil Dana Reboisasi
Belanja Wajib :
Belanja Pegawai dan Belanja Anggota DPRD
BIaya Lain : Biaya terkait pengadaan pinjaman antara
lain Biaya Administrasi , Biaya Provisi ,Biaya komitmen , Asuransi dan Denda
Berdasarkan rasio ini, pemerintah daerah dinilai
untuk melakukan pinjaman daerah apabila dinilai DSCR-nya minimal sebesar 2,5.
Jika nilai DSCR kurang dari 1, maka hal itu mengindikasikan
terjadinya arus kas negative yang berarti pendapatan tidak cukup untuk menutup
seluruh beban utang berupa angsuran pokok dan bunga. Misalnya nilai DSCR
sebesar 0,95 berarti pemerintah daerah hanya memiliki pendapatan setelah
dikurangi belanja wajib yang hanya cukup untuk menutup 95% beban utang pada
tahun tersebut.
Contoh Penghitungan
DSCR
Untuk memberikan ilustrasi cara penghitungan DSCR,
berikut ini disajikan data pendapatan, belanja, surplus/deficit anggaran
pemerintah Kabupaten Nagarakartagama Tahun Anggaran 2009.
Laporan Realisasi
Anggran pemerintah kabupaten Nagarakartagama Tahun Anggaran 2009
|
URAIAN
|
TAHUN 2009
|
|
PENDAPATAN
|
406,600,500,000
|
|
Pendapatan Asli
Daerah
|
35,000,000,000
|
|
Dana Perimbangan
|
371,600,500,000
|
|
Bagi Hasil
Pajak dan Bukan Pajak
|
20,475,500,000
|
|
DAU
|
325,925,000,000
|
|
DAK
|
10,000,000,000
|
|
Bagi Hasil
Propinsi
|
15,200,000,000
|
|
|
|
|
|
|
|
BELANJA
|
416,150,000,000
|
|
Belanja operasi
|
303,750,000,000
|
|
Belanja Modal
|
75,000,000,000
|
|
Transfer ke Desa
|
35,000,000,000
|
|
Belanja Tidak
Terduga
|
2,400,000,000
|
|
|
|
|
SURPLUS/DEFISIT
|
(9,459,500,000)
|
Informasi tambahan:
§ Dana
Bagi Hasil Dana Reboisasi untuk tahun 2009 sebesar Rp 3.000.000.000
§ Belanja
wajib sebesar 60% dari total APBD tahun yang bersangkutan
§ Angsuran
pokok pinjaman untuk tahun 2009 sebesar Rp 5.500.000.000; bunga Rp
1.200.000.000; dan
Biaya lain terkait pinjaman sebesar Rp
100.000.000
Berdasarkan
data tersebut, maka DSCR untuk tahun anggaran 2009 dapat di ketahui sebagai
berikut:
Angsuran
Pokok Pinjaman + Bunga + Biaya Lain
= {35.000.000.000
+ [35.675.500.000 – 3.000.000.000] + 325.925.000.000} – 249.690.000.000
=
21,16
Berdasarkan
hasil perhitungan diperoleh nilai DSCR sebesar 21,16 yanga berarti pemerintah
daerah dilihat dari kemampuan keuangananya layah untuk mengadakan pinjamna
karena pemerintah daerah tersesbut masih memeiiki lemampuan yang cukup untuk
mengemmbalikan pokok pinjamna beserta bunganya . Analisis DSCR ini bermanfaat
bagi pemerintah daerah yang akan menggunakan instrument pembiayaan anggaran
melalui pengadaan pinjaman daerah .
Debt Servis Ratio
Debt Servis Ratio (DSR) merupakan rasio
untuk mengukur kemampuan pemerintah daerah dalam membayar kembali pinjaman
daerah meliputi pkoko dan bunganya dengan pendapatan daerah yang dimilikinya.
Sama halnya ddengan DSCR , DSR bermanfaat untuk mengukur kemampuan finansial
pemerintah daerah dalam menaggung beban hutang , yaitu pokok dan bunga dengan
total pendapatan daerah yang dimilkinya. Rasio DSR ini dapat digunakan untuk
mendukung analisis DSCR. JIka dibandingkan dengan DSCR , maka DSR kurang detail
sebab hanya melihat besaran makro total pendapatan daerah , sedangkan DSCR
mengukurnya berdasarkan pendaptana daerah setelah dikurangi belanja wajib dan
disesuaikan dengan dana bagi hasil dana reboisasi . Rasio DSR dirumuskan sebgai
berikut :
Pokok pinjaman + Bunga
Sebagai
berikut adalah proyeksi bunga dan pokok utang pemerintah daerah serta
perhitungan debt service ratio :
|
Keterangan
|
2005
|
2006
|
2007
|
2008
|
|
Total Pokok
|
13,200,000,000
|
33,900,000,000
|
35,500,000,000
|
40,000,000,000
|
|
Bunga
|
1,827,279,420
|
4,199,291,322
|
43,411,293,321
|
5,041,319,356
|
|
Total Pokok
dan Bunga
|
15,027,279,420
|
38,099,291,322
|
39,841,129,321
|
45,041,319,356
|
|
Total Pendapatn
|
393,935,739,496
|
428,715,390,600
|
457,855,429,750
|
489,937,142,500
|
|
DEBT SERVICE RATIO
|
26,21
|
11,25
|
11,49
|
10,87
|
Sama halnya dengan DSCR , nilai DSR yang harus
dimiliki pemerintah daerah minimal sebesar 1. Jika kurang dari 1 maka
mengindikasikan adanya kesulitan keuangan di pemerintah derah . Dengan
menggunakan Ilustrasi diatas terkesan pemerintah daerah sngat ekspansif yang
ditandai dengan semakin besarnya hutang dan adanya kecenderungan menurunnya
tingkat DSR. Namun jika melihat besran angka DSR-nyamaka secara teoritis
kondisi keunagan pemerintah daerah msih dalam taraf yang cukup aman .
Pemerintah daerah cukup mampu untu k membayar beban utangya dengan pendapatan
yang dimiliknya
7.
Rasio
utang Terhadap Pendapatan Daerah
Selain dilihat dari rasio DSCR , kinerja pinjaman
daerah juga dapat dilihat dari rasio utang terhadap pendapatan (debt to income
ratio ) . Rasio ini sudah dibahas pada rasio DSCR yang lebih cenderung
dugunakan oleh pihak internal manajemen pemerintah daerah , sedangkan rasio
utang terhadap pendapatan daerah snagat bermanfaat bagi pihak eksternal
terutama calon kreditur untuk menilai lemampuan pemerintah derah dalam
mengembalikan pinjeman .Rumus rasio adalah sebagai berikkut :
Rasio
Utang Terhadap pendapatan = Total
Uang Pemerintah Daerah
Total Pendapatan daerah
Analisi Potensi
pendaptan Asli Daerah
Analisi potensi ini bermanfat bagi manjemen
pemerintah daerah maupun calon investor untuk memberikan pertimbangan tentang
potensi penrimaan ynag msih dapat digali dan potensi keuntungan berinvestasi .
Analisi potensi PAD dilakukan unttuk mengetahui jenis pajak daerah dan
retribusi daerah tertentu apakah masuk katagori potensi ,prima , berkembang ,
taukah terbelakang . Selanjutnya setelah diketahui potensinya tehap berikutnya
dapat diamabil kebijakan untuk jenis pajak dan reribusi dearah yang
dikatagorikan potensi dan berkembang dapat dilakukan intensifikasi dan
ekstensifikasi , untuk katagori prima perlu dilakukan intensifikasi dan untuk
katagori terbelakang dapat
Dilakukan peninjauan ulang tau bahkan penghapusan .
Untuk dapat memetakan katgori potensial , prima , berkembang , dan
terbelakang tersebut perlu dibuat
matriks potensi pajak dan tretribusi sebagai berikut :
|
PROPORSI
|
Yi > 1
|
Yi> 1
|
|
|
PRIMA
|
PERKEMBANGAN
|
|
|
POTENSIAL
|
TERBELAKANG
|
Ket. :
Yi :Penerimaan
pajak atau retribusi I pada tahun t
Y : NIlai
rata- rata pajak atau retribusi pada tahun t
∆Yi :
Tambahan Penerimaan jenis pajak atau retribusi I pada tahun t
∆Y :
Tambahan Penerimaan Pajak atau retribusi pada tahun t
Sementara itu , untuk mengetahui ∆Yi dan ∆Y dihitung
dengan rumus sebagai berikut :
∆Yi =Y i , tahun t - Y i , tahun (t-1) x 100 %
Y i , tahun t
∆Y= Y ,
tahun t - Y tahun (t-1) x 100 %
Y tahun t
Yi : Proposi suatu jenis pajak atau
retribusi I dari rerata pajk atau retrebusi
Y
∆Yi : Proporsi tambahan suatu jenis atau
retribusi dari total tambahan penerimaan pajak atau retribusi
∆Y
Semakin besa proporsi suatu pajak atau retribusi
dari rerata pajak atau retribusi , maka semakin layak pajak atau retribusi
tersebut untuk diupayakan di masa mendatang . Sebaliknya , semakin kecil
proporsi pajak atau retribusi tersebut maka upaya identifikasi mengenai
kelayakan untuk dijadikan sumber penerimaan di masa datang perlu diintensifkan . Sementara untuk proporsi
tambahan , semakin besar proporsi tambahan suatu pajak atau retribusi dari
total penerimaan pajak atau retribusi , maka semakin layak pajak atau retribusi
tersebut untuk diupayakan peningkatannya. Sebaliknya , semakin kecil proporsi
tambahan suatu jenis pajak atau retribusi maka upaya identifikasi mnegenai
kelayakan untuk dijadikan mengenai kelayakan untuk dijadikan sumber penerimaan
di masa mendatang perlu diintensifkan .
8.
Rasio
Standar Penerimaan Pendapatan
Rasio standart penerimaan pendapatan bermanfaat
untuk pengawawan dan pengendaliian manajemen pemerintah daerah dalam
pelaksanaan pemungutan pendapatan daerah . Rasio srandar penerimaan pendapatan
meliputi :
1. Rasio
Cakupan (Coverage Ratio )
2. Rasio
Biaya Pemungutan
3. Rasio
Biaya Pelayanan
4. Rasio
pemungutan
Rasio Cakupan
Rasio cakupan merupakan rasio yang digunakan untuk
mengetahui tingkat keefektivan pemerintah daerah dalam merealisasikan potensi
pendapatannya . Rasio cakupan ini merupakan stnadar keefektivan dalam
pendaftaran dan pendataan subyek dan obyek pendapatan dibandingkan dengan
potensi pendapatannya. Rasio cakuan dirumuskan sebagai berikut :
Rasio Cakupan pendapatan = Subjek / Objek
Pendapatan Yang Terdaftar x 100 %
Potensi Subjek / Objek pendapatan
Rasio Biaya Pemungutan
Rasio biaya pemungutan sama dengan rasio efisiensi
penerimaan pendapatan sebagaimana sudah dijelaskan pada awal pembahasn . Rasio
ini dihitung dengan cara membandingkan biaya yang dikeluarkan dalam rangka
memperoleh pendaptan dengan pendapatan yang diperoleh , Agar rasio biaya
pemungutan ini baik dalam arti efisien, maka biaya pemungutan harus ditekan
seefisien mungkin agar pendapatan versih meningkat . Beberapa pemeintah daerah
dalam rangka meningkatkan efisiensi pendapatan melakukan strategi outsourcing kepada
pihak ketiga untuk penariakan pajak dan retribusi daerah tertentu , seperti
pajak hotel dan restoran , retribusi parker , dan sebagainya . Bahkan
outsourcing tersebut tidak terbatas pada level pemungutan (koleksi ) , tetapi
juga tahap pendataan .
Rasio biaya
Pelayanan
Rasio biaya pelyanan digunakan untuk mengukur
efisiensi dalam penerimaan retribusi daerah . Rasio ini diukur dengan cara
membandingkan biaya pelayanan yang dikeluarkan pemerintah daerah untuk
memberikan pelayanan tertentu dengan pendapatan retribusi yang dipungut atas
pelayanan tersebut . Idealnya pendapatan retribusi dapat mencukupi untuk
menutup biaya pelayan yang telah dikeluarkan (cost recovery) bahkan diupyakan
lebih besar agar diperoleh keuntungan . Rasio biya pelayanan dirumuskan sebgai
berikut :
Rasio Biaya Pelayana Y = Biaya Pelayanan Yx 100 %
Pendapatan Retribusi Y
Rasio Pemungutan
Rasio pemungutan merupakan rasio yang digunakan
untuk mengukur realisasi pemungutan pajak daerah dibandingkan dengan tunggakan
dan tagihan baru . Rasio pemungutan ini juga merupakan bentuk dari rasio
efektivitas pajak daerah . Rasio pemungutan dirumuskan sebagai berikut :
Rasio pemungutan = Realisasi Penerimaan Pajak Daerah x100%
Tunggakan + Tagihan Baru Atau dengan rumus lain :
Rasio Pemungutan = Hasil tahun sekarang + tagihan
tahun lalu x 100 %
Target tahun
sekarang + tunggakan tahun lalu
Dari keempat jenis rasio standart tersebut , nilai
yang menjadi standar untuk masing-masing rasio adalah sebagai berikut
|
RASIO STANDAR PENERIMAAN PENDAPTAN
|
NILAI
|
|
Rasio Cakupan (Coverage ratio )
|
95%
|
|
Rasio Biaya pemungutan
|
10%
|
|
Rasio Biaya pelayanan
|
90%
|
|
Rasio Pemungutan
|
95%
|
·
Pendapatan merupakan
semua penerimaan Rekening Kas Umum Negara /Daerah yang menambah ekuitas dana
lancer dalam periode tahun anggran bersangkutan yang menjadi hak pemerintah dan
tidak perlu dibayar kembali oleh pemerintah . Pendaptan derah tidak sma dengan
pemerintah daerah, bedanya terletak pada pengaruh terhadap ekuitas dana
·
Analisi pendaptan
daerah dapat digunakan untuk mengavaluasi kinerja pemerintah daerah dalam
melaksankan anggaran . Secara umum realisasi pendaptan dearah dinilai baik
apabila melampaui target anggran , sebab anggaran pendpatan merupakan bats
minimal yang harus dicpai daerah
·
Berdasarkab data
pendapatan daerah yang disajikan dalam Laporan Realisasi Anggran , pembaca
laporan keuangan dapat membuat berbagai analisi rasio keunagan berupa :
-Rasio
kemandirian daerah
-Rasio
Ketergatungan Daerah
-Derajat
Dsentralisasi
-Rasio
Efektivitas PAD
-Rasio Efisiensi
PAD
-Rasio
Efektivitas Pajak daerah
-Rasio Efisiensi
Pajak Daerah
-Derajat
Kontribusi BUMD
-Derajat
Kontribusi BUMD
- Rasio Kemampuan
Mengembalikan Pinjaman (Debt Service Coverage Ratio )
-Rasio pendapatan
terhadap Utang By : Berbagai Sumber
Langganan:
Postingan (Atom)



































