Minggu, 14 Juni 2015

Analisis current ratio, acid test ratio, solvabilitas, dan rentabilitas



PT. GUDANG GARAM Tbk.


A. CURRENT RATIO


(Aktiva Lancar : kewajiban lancar) x 100%


= (17.955.845 : 9.437.259) x 100%


= 190,2 %


B. ACID TEST RATIO


((Aktiva lancar – persediaan) : kewajiban lancar) x 100%


= ((17.955.845 – 14.016.039) : 9.437.259) x 100%


= 41,7 %


C. SOLVABILITAS


Kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi segala kewajiban finansialnya pada saat perubahan tersebut dilikuidasi .


· Total debt to equity ratio


(Total Hutang : Modal sendiri) x 100%


= (10.373.890 : 1.015.744) x 100%


= 1021,3 %


· Total debt to capital assets


(Total Hutang : Total Aktiva) x 100 %


= (10.373.890 : 24.904.022) x 100 %


= 41,6 %


· Long Term Debt to Equity ratio


(Hutang Jangka Panjang : Modal Sendiri) x 100%


= (921.817 : 1.015.744) x 100%


= 90,7 %


D. RENTABILITAS


Suatu perusahaan menunjukkan suatu perbandingan antara laba dengan aktiva/modal yang menghasilkan laba tersebut.


(L : M) X 100 %


= (1.527.107 : 14.530.132) X 100%


= 10,5 %


· Gross Profit Margin


(Laba kotor : Penjualan netto) x 100%


= (2.427.250 : 15.056.347) x 100%


=16,1 %


· Operating Ratio


(( HPP + Biaya Administrasi ) : Penjualan netto ) x 100%


= (( 12.629.097 + 415.876 ) : 15.056.347 ) x 100%


= 86,6%


· Net Profit Margin


( Laba setelah pajak : Penjualan netto ) x 100%


=(891.358 : 15.056.347) x 100%


=5,9 %


· Return On Investment


( Laba setelah pajak : Jumlah Aktiva ) x 100%









= (891.358 : 24.904.022) x 100 %

Rabu, 10 Juni 2015

Tau kah kamu...???

Berbagi pengetahuan dan wawasan

Mahram 

4 Presiden Indonesia

Fakta Sapi

Planet Mars

Kenapa cincin tunangan ditaruh di jari manis sebelah kiri..?



Faktor penting suatu hubungan

Bus sekolah
Kenapa Bus sekolah berwarna Kuning?

Sinkronisasi hati. :D

By : @Infia_fact

Please comment.

Selasa, 12 Mei 2015

NOMOR - NOMOR DARURAT SEGERA HUBUNGI KETIKA . . . .

Anda sedih -> Al-Qur'an 2 : 25
Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezeki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan: "Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu". Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya.

Anda Berdosa -> Al-Qur'an 39 : 53
Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang

Anda mencari teman -> Al-Qur'an  2 : 257
Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.

Anda mencari kedamaian -> Al-Qur'an  5 : 16
Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.

Anda Tertekan -> Al-Qur'an  13 : 28
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.

Anda mencari cinta dan ketenangan -> Al-Qur'an  30 : 21
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.

Anda merindukan teman -> Al-Qur'an  50 : 16
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.

Anda merasa tak dihargai -> Al-Qur'an  76 : 22
Sesungguhnya ini adalah balasan untukmu, dan usahamu adalah disyukuri (diberi balasan).

Anda merasa seperti pecundang -> Al-Qur'an  12 : 87
Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir".

Anda membutuhkan jaminan ganda -> Al-Qur'an  15 : 43
Dan sesungguhnya Jahanam itu benar-benar tempat yang telah diancamkan kepada mereka (pengikut-pengikut setan) semuanya.

Anda butuh pembebasan dari ketakutan -> Al-Qur'an  3 : 135
Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.

Anda bosan kesusahan / kesulitan -> Al-Qur'an 94 : 5
Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,

Ada orang yang sombong menantang anda -> Al-Qur'an  25 : 63

Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.

Minggu, 10 Mei 2015

ARTI LAMBANG SEGITIGA YANG BERADA DIBAWAH KEMASAN BOTOL PLASTIK

 Coba lihat tanda segitiga pada bawah kemasan botol plastik, tau ngga gimana maksudnya??
ini diaa maksudnya...

Tanda di bawah botol itu merupakan kode yg dikeluarkan The Society of Plastic Industry pada tahun 1998 di Amerika Serikat dan diikuti oleh lembaga-lembaga pengembangan sistem kode, seperti ISO (International Organization for Standardization).

Secara umum tanda pengenal plastik tersebut berciri-ciri :
1. Berada atau terletak di bagian bawah,
2. Berbentuk segitiga,
3. Di dalam segitiga tersebut terdapat angka,
4. Serta nama jenis plastik di bawah segitiga.

Berikut arti dari istilah-istilah tersebut :

1. PETE/PET
PETE/PET

Tanda ini biasanya tertera logo daur ulang dengan angka 1 di tengahnya serta tulisan PETE atau PET (polyethylene terephthalate) di bawah segitiga. Biasa dipakai untuk botol plastik, berwarna jernih/transparan/tembus pandang seperti botol air mineral, botol jus, dan hampir semua botol minuman lainnya.

Botol jenis PETE/PET ini disarankan hanya untuk sekali pakai. Bila terlalu sering dipakai, apalagi digunakan untuk menyimpan air hangat apalagi panas, akan mengakibatkan lapisan polimer pada botol tersebut akan meleleh dan mengeluarkan zat karsinogenik yang dapat menyebabkan kanker dalam jangka panjang.

Bahan PETE ini pun berbahaya bagi pekerja yang berhubungan dengan pengolahan maupun botol daur ulang botol PETE. Pembuatan PETE menggunakan senyawa antimoni trioksida. Senyawa ini dapat masuk ke dalam tubuh melalui sistem pernapasan dengan menghirup udara yang mengandung senyawa tersebut.

Seringnya menghirup senyawa ini dapat mengakibatkan iritasi kulit dan saluran pernapasan. Bagi wanita, senyawa ini meningkatkan masalah menstruasi dan keguguran. Bila melahirkan pun, anak mereka kemungkinan besar akan mengalami pertumbuhan yang lambat hingga usia 12 bulan.

Mayoritas bahan PETE di dunia digunakan untuk serat sintesis dan bahan dasar botol kemasan. Di dalam pertekstilan, PETE biasa disebut dengan polyester.

2. HDPE
HDPE

Pada bagian bawah kemasan botol plastik, tertera logo daur ulang dengan angka 2 di tengahnya, serta tulisan HDPE (high density polyethylene) di bawah segitiga. Biasa dipakai untuk botol susu yang berwarna putih susu, Tupperware, galon air minum, kursi lipat dan lain-lain.

Botol plastik jenis HDPE memiliki sifat bahan yang lebih kuat, keras, buram dan lebih tahan terhadap suhu tinggi. Merupakan salah satu bahan plastik yang aman untuk digunakan karena kemampuan untuk mencegah reaksi kimia antara kemasan plastik berbahan HDPE dengan makanan/minuman yang dikemasnya.

Sama seperti PETE, HDPE juga disarankan hanya untuk sekali pemakaian karena pelepasan senyawa antimoni trioksida terus meningkat seiring waktu.

3. V/PVC
V/PVC

Tertulis (terkadang berwarna merah) dengan angka 3 di tengahnya, serta tulisan V.

V itu berarti PVC (polyvinyl chloride), yaitu jenis plastik yang paling sulit didaur ulang. Ini bisa ditemukan pada plastik pembungkus (cling wrap) dan botol-botol.

Reaksi yang terjadi antara PVC dengan makanan yang dikemas dengan plastik ini berpotensi berbahaya untuk ginjal, hati dan berat badan. PVC mengandung DEHA (diethylhydroxylamine) yang dapat bereaksi dengan makanan yang dikemas dengan plastik berbahan PVC ini saat bersentuhan langsung dengan makanan tersebut karena DEHA ini lumer pada suhu -15°C.

4. LDPE
LDPE

Logo daur ulang dengan angka 4 di tengahnya, serta tulisan LDPE. LDPE (low density polyethylene) yaitu plastik tipe cokelat (thermoplastic, dibuat dari minyak bumi), biasa dipakai untuk tempat makanan, plastik kemasan, dan botol-botol yang lembek.

Sifat mekanis jenis LDPE ini adalah kuat, tembus pandang, fleksibel dan permukaan agak berlemak, pada suhu 60 derajat sangat resisten terhadap reaksi kimia, daya proteksi terhadap uap air tergolong baik, dapat didaur ulang serta baik untuk barang-barang yang memerlukan fleksibelitas tapi kuat.

Barang berbahan LDPE ini sulit dihancurkan, tetapi tetap baik untuk tempat makanan karena sulit bereaksi secara kimiawi dengan makanan yang dikemas dengan bahan ini.

5. PP
PP

Tertera logo daur ulang dengan angka 5 di tengahnya, serta tulisan PP. Karakteristik adalah biasa botol transparan yang tidak jernih atau berawan. Polipropilen lebih kuat dan ringan dengan daya tembus uap yang rendah, ketahanan yang baik terhadap lemak, stabil terhadap suhu tinggi dan cukup mengkilap.

Jenis PP (polypropylene) ini adalah pilihan bahan plastik terbaik, terutama untuk tempat makanan dan minuman seperti tempat menyimpan makanan, botol minum dan terpenting botol minum untuk bayi.

Carilah dengan kode angka 5 bila membeli barang berbahan plastik untuk menyimpan kemasan berbagai makanan dan minuman.

6. PS
PS

Tertera logo daur ulang dengan angka 6 di tengahnya, serta tulisan PS. Biasa dipakai sebagai bahan tempat makan styrofoam, tempat minum sekali pakai, dan lain-lain. Polystyrene merupakan polimer aromatik yang dapat mengeluarkan bahan styrene ke dalam makanan ketika makanan tersebut bersentuhan.

Selain tempat makanan, styrene juga bisa didapatkan dari asap rokok, asap kendaraan dan bahan konstruksi gedung. Bahan ini harus dihindari, karena selain berbahaya untuk kesehatan otak, mengganggu hormon estrogen pada wanita yang berakibat pada masalah reproduksi, dan pertumbuhan dan sistem syaraf, juga karena bahan ini sulit didaur ulang. Bila didaur ulang, bahan ini memerlukan proses yang sangat panjang dan lama.

Bahan ini dapat dikenali dengan kode angka 6. Namun, bila tidak tertera kode angka tersebut pada kemasan plastik, bahan ini dapat dikenali dengan cara dibakar (cara terakhir dan sebaiknya dihindari). Ketika dibakar, bahan ini akan mengeluarkan api berwarna kuning-jingga dan meninggalkan jelaga.

7. OTHER
OTHER

Tertera logo daur ulang dengan angka 7 di tengahnya, serta tulisan OTHER. Untuk jenis plastik 7 Other ini ada 4 macam, yaitu:
1. SAN – styrene acrylonitrile,
2. ABS – acrylonitrile butadiene styrene,
3. PC – polycarbonate,
4. Nylon

Dapat dtemukan pada tempat makanan dan minuman seperti botol minum olahraga, suku cadang mobil, alat rumah tangga, komputer, alat elektronik dan plastik kemasan.

SAN n ABS memiliki resistensi yang tinggi terhadap reaksi kimia n suhu, kekuatan, kekakuan dan tingkat kekerasan yg telah ditingkatkan.

Biasanya SAN terdapat pada mangkuk mixer, pembungkus termos, piring, alat makan, penyaring kopi dan sikat gigi.

Sedangkan ABS biasanya digunakan sebagai bahan mainan lego dan pipa. Bahan-bahan ini merupakan salah satu bahan plastik yang sangat baik untuk digunakan dalam kemasan makanan ataupun minuman.

PC (polycarbonate) dpt ditemukan pada botol susu bayi, gelas anak batita (sippy cup), botol minum polikarbonat dan kaleng kemasan makanan serta minuman, termasuk kaleng susu formula.

Bahan ini dapat mengeluarkan bahan utamanya yaitu Bisphenol-A ke dalam makanan n minuman yang berpotensi merusak sistem hormon, kromosom pada ovarium, penurunan produksi sperma, dan mengubah fungsi imunitas.

Pemakaian dianjurkan tidak digunakan untuk tempat makanan ataupun minuman. Ironisnya botol susu sangat mungkin mengalami proses pemanasan. Entah itu untuk tujuan sterilisasi dengan cara merebus, dipanaskan dengan microwave atau dituangi air panas.

Kesimpulan yang didapat dari tanda klasifikasi plastik tersebut:
Hati-hati dalam menggunakan plastik, khususnya kode 1, 3, 6 dan 7 (PC), seluruhnya memiliki bahaya secara kimiawi. Gunakan hanya sekali pakai!
Cukup aman bila menggunakan plastik dengan kode 2, 4, 5 dan 7 (SAN atau ABS)

Bagi orang tua yang masih memerlukan botol susu untuk putra atau putrinya:
Pilih dan gunakan botol susu bayi berbahan kaca, atau plastik jenis 4 atau 5.
Gunakanlah cangkir bayi berbahan stainless steel, atau plastik jenis 4 atau 5.
Untuk dot, gunakanlah yang berbahan silikon, karena tidak akan mengeluarkan zat karsinogenik sebagaimana pada dot berbahan latex.
Cegah penggunaan botol susu bayi dan cangkir bayi (dengan lubang penghisapnya) berbahan jenis 7 PC (polycarbonate),
Jika penggunaan plastik berbahan polycarbonate tidak dapat dicegah, janganlah menyimpan air minum ataupun makanan dalam keadaan panas.

Hindari penggunaan botol plastik untuk menyimpan air minum. Biasanya digunakan untuk tempat air putih di dalam kulkas.

Jika penggunaan botol plastik berbahan PET (kode 1) dan HDPE (kode 2) tidak dapat dicegah, gunakan hanya sekali pakai dan segera dihabiskan. Gantilah dengan botol stainless steel atau gelas/kaca.


#By : Berbagai Sumber

Rabu, 22 April 2015

ANALISIS RASIO KEUANGAN APBD

ANALISIS RASIO KEUANGAN APBD

Analisis Rasio APBD
          Analisis keuangan adalah usaha mengindetifikasi ciri-ciri keunagan berdasarkan laporan keuangan yang tersedia. Penggunaan analisis rasio pada sector public khususnya terhadap APBD belum banyak dilakukan sehingga secara teori belum ada kesepakatan secara bulat mengenai kaidah dan pengukurannya.

Kegunaan Analisis Ratio pada Sektor Publik (APBD) :
-          Menilai kemandirian keuangan daerah dalam membiayai penyelenggaraan otonomi dearah
-          Mengukur efektifitas dan efisiensi dalam merealisasikan pendapatan daerah
-          Mengukur sejauhmana aktivitas pemerintah daerah dalam membelanjakan pendapatan derahnya
-          Mengukur kontribusi masing-masing sumber pendapatan dalam pendapatan daerah
-          Melihat pertumbuhan/perkembangan perolehan pendapatan dan pengeluaran  yang dilakukan selama periode waktu tertentu

Analisis Rasio dilakukan dengan :
-          Membandingkan hasil yang dicapai dari
Suatu periode dibandingkan dengan periode sebelumnya sehingga dapat diketahui bagaimana kecenderungan yang terjadi
-          Membandingkan dengan rasio keuangan
Daerah lain yang etrdekat ataupun yang potensi daerahnya relative sama untuk dilihat bagaimana posisi ratio keuangan pemerintah dearah tersebut terhadap pemerintah daerah lain .





Pihak-pihak yang berkepentingan dengan ratio keuangan pada APBD :
-          DPRD
-          Pihak ekskutif sebagai landasan dalam menyusun APBD berikutnya
-          Pemerintah pusat /Propinsi sebagai bahan masukan dalam pembinaan pelaksanaan pengelolaan keuangan daerah .
-          Masyarakat dan kreditor , sebagai pihak yang akna turut memiliki saham pemerintah daerah , bersedia memberi pinjaman ataupun member obligasi.


Analisis Rasio Keuangan terdiri dari :

1.      Derajat Desentralisasi
Derajat Desentralisasi dihitung berdasarkan perbandingan antara jumlah Pendapatan Asli Daerah  dengan total penerimaan daerah .Rasio ini menunjukkan  derajat kontribusi PAD terhadap total penerimaan daerah . Semakin tinggi kontribusi PAD maka semakin tinggi kemampuan pemerinah daerah dalam penyelenggraaan desentralisasi .Rasio dirumuskan sebagai berikut :

Derajat Desentralisasi = Pendapatan Asli Daerah x 100 %
                                        Total pendapatan daerah

2.      Rasio ketergantungan Keuangan Daerah
Rasio ketergantungan keuangan daerah dihitung dengan cara membandingkan jumlah pendapatan transfer yang diterima oleh penerimaan daerah dengan total penerimaan daerah . Semakin tinggi rasio ini maka semakin besar tingkat ketergantungan pemerintah daerah terhadap pemerintah pusat atau pemerintahan provinsi . Rasio ini dirumuskan sebagai berikut :

Rasio Ketregantungan keuangan Daerah =    Pendapatan Transfer  x 100%
                                                                        Total Pendapatan Daerah

3.      Rasio kemandirian keuangan Daerah
Rasio kemandirian keuangan daerah dihitung dengancara membandingkan jumlah penerimaan Pendapatan Asli Daerah dibagi dengan jumlah pendapatan transfer dari pemerintah pusat dan provinsi serta pinjaman daerah. Semakin tinggi angka rasio ini menunjukan pemerintah daerah semakin tinggi kemandirian keuangan daerahnya.
Rasio Kemandirian Dearah =                   Pendapatan Asli Daerah                             x 100 %
                                                Transfer pusat + propinsi +pinjaman

4.      Rasio Efektivitas dan Efisiensi pendapatan Asli Daerah
Rasio efektivitas PAD dihitung dengan cara membandingkan realisasi penerimaan PAD dengan target penerimaan PAD dengan target penerimaan PAD (dianggarkan ). Rasio ini dirumuskan sebagai berikut :

Rasio Efektivitas PAD =    Realisasi Penerimaan Pendapatan Asli Daerah x 100%
                                    Target penerimaan PAD
Rasio efektivitas PADmenunjukkan kemampuan pemerintah daerah dalam memobilisasi peneriman PAD sesuai dengan yang ditargetkan . Secara umum , nilai efektivitas PAD depat dikatagorikan sebagai berikut :
-          Sangat efektif             : .100 %
-          Efektif                         :  100 %
-          Cukup Efektif                         :  90 % - 99 %
-          Kurang Efektif            : 75 % - 89 %
-          Tidak Efektif             : < 75 %
Untuk mengukur kinerja pemerintah daerah dalam memobilisasi penerimaan PAD , indicator rasio efektivitasnya PAD saja belum cukup, sebab meskipun jika dilihat dari rasio efektivitasnya sudah baik tetapi bila ternyata biaya untuk mencapai target tersebut sngat besar , maka berartipemungutan PAD tersebut tidak efisien . Oleh karena itu perlu pula dihitung rasio efisiensi PAD . Rasio ini dihitung dengan cara membandingkan biaya yang dikeluarkan pemerintah daerah untuk memperoleh PAD dengan realisasi penerimaan PAD . Untuk dapat menghitung rasio efisiensi PAD ini diperlukan data tambahan yang tidak tersedia di Laporan Realisasi Angggaran , yaitu data tentang biaya pemungutan PAD
Rasio Efisiensi PAD =   Biaya pemerolehan Pendaptan Asli Daerah x 100%
                                      Realisasi Penerimaan Pendaptan Asl Daerah
Semakin kecil nilai rasio ini maka semakin efisien kinerja pemerintah deerah dalam melakukan pemungutan Pendapatan Pandapatan Asli Daerah . Secara umum , nilai efisiensi PAD dapat dikatagorikan sebagai berikut :
-          Sangat efektif                         : < 10  %
-          Efektif                         :  10 % - 20 %
-          Cukup Efektif                         :  21 % - 30 %
-          Kurang Efektif            : 31 % - 40 %
-          Tidak Efektif             : > 40  %


5.      Rasio Efektivitas dan Efisiensi Pajak Daerah
Selain analisis rasio efektivitas dan efisiensi PAD , kita juga dapat melakukan analisis efektivitas dan efisiensi pajak daerah .

Rasio Efektivitas Pajak Daerah =   Realisasi Penerimaan Pajak Daerah x 100 %
                                                    Target Penerimaan Pajak Daerah

Rasio efektivitas pajak dearah menunjukkan kemampuan pemerintah daerah dalam mengumpulkan pajak daerah sesuai sengan jumlah penerimaan pajak daerah yang ditargetkan . Rasio efektivitas pajak daerah dianggap baik apabila rasio ini mencapai angka minimal 1 atau 100%

Rasio Efisiensi Pajak Derah =    Biaya Pemungutan Pajak Daerah     x 100 %
                                                      Realisasi Penerimaan Pajak Daerah
Kinerja pemerintah daerah dalam melakukan pemungutan pajak daerah dikatagorikan efisien apabila rasio yang dicapai kurang dari 10 % ( semakin kecil rasio ini semakin baik ). Sama halnya dengan analisis efisiensi PAD , untuk dapat menghitung rasio efisiensi pajak deerah diperlukan data tentang biaya pemungutan pajak . Data ini bisa diperoleh dari Badan Pengelola Keuangan  Daerah (BPKD) atau Kantor Pelayanan Pajak Daerah ( KPPD).

Contoh :
Perhitungan rasio efektivitas dan efisiensi Pendaptan Asli Daerah dan Pajak daerah yang dicapai oleh Pemerintahan Daerah Kabupaten Nagarakartagama .

Biaya Pemungutan ,  Target , dan Ralisasi Penerimaan Pajak dan Retribusi Daerah Tahun Anggaran 2008 dan 2009
Berdsarkan perhitungan tersebut , maka kinerja pemerintah daerah dalam mengumpulkan pendapatan daerah cukup bagus . Hal itu ditunjukkan dengan adanya peningkatan penerimaan pendapatan , rasio efektivitas pendapatan yang lebih besar dari 100% dan nilai efisiensi di bawah 10 % . Selain itu , nilai rasio efisiensi tersebut juga lebih kecil dari rasio efisiensi yang di anggarkan.

6.      Derajat kontribusi BUMD
Rasio ini bermnfaat untuk mengetahui tingkat kontribusi  perusahaan daerah mendukung pendaptan derah .Rasio ini dihitung dengan cara membanding penerimaaan daerah dari hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan dengan total Penerimaan Pendapatan  Asli Daerah.

Derajat Kontribusi BUMD =   Penerimaan Bagian Laba BUMD x 100%
                                                           Penerimaan PAD

Debt Service Coverage Ratio (DSCR)
DSCR sangat diperlukan apabila pemerintah daerah berencana untuk mengadakan utang jangka panjang . DSCR merupakan rasio untuk mengukur kemampuan pemerintah daerah dalam membayar kembali pinjamna daerah . Rasio ini dirumuskan sebagai berikut :
DSCR =  ( PAD + ( DBH – DBHDR ) + DAU ) – Belanja Wajib
                 Angsuran Pokok Pinjaman + Bunga + Biaya Lain
Ket.:
PAD                    : Pajak Asli Daerah
DAU                    : dana Alokaasi Umum
DBH                    : Dana Bagi Hasil yang merupakan bagian dari PBB , BPHTB , dan bagi hasil SDA
DBHDR              :Dana Bagi Hasil Dana  Reboisasi
Belanja Wajib      : Belanja Pegawai dan Belanja Anggota DPRD
BIaya  Lain          : Biaya terkait pengadaan pinjaman antara lain Biaya Administrasi , Biaya Provisi ,Biaya komitmen , Asuransi dan Denda

Berdasarkan rasio ini, pemerintah daerah dinilai untuk melakukan pinjaman daerah apabila dinilai DSCR-nya minimal sebesar 2,5.
Jika nilai DSCR kurang dari 1, maka hal itu mengindikasikan terjadinya arus kas negative yang berarti pendapatan tidak cukup untuk menutup seluruh beban utang berupa angsuran pokok dan bunga. Misalnya nilai DSCR sebesar 0,95 berarti pemerintah daerah hanya memiliki pendapatan setelah dikurangi belanja wajib yang hanya cukup untuk menutup 95% beban utang pada tahun tersebut.

Contoh Penghitungan DSCR
Untuk memberikan ilustrasi cara penghitungan DSCR, berikut ini disajikan data pendapatan, belanja, surplus/deficit anggaran pemerintah Kabupaten Nagarakartagama Tahun Anggaran 2009.
Laporan Realisasi Anggran pemerintah kabupaten Nagarakartagama Tahun Anggaran 2009
URAIAN
TAHUN 2009
PENDAPATAN
                                          406,600,500,000
       Pendapatan Asli Daerah
                                            35,000,000,000
         Dana Perimbangan
                                          371,600,500,000
               Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak
                                            20,475,500,000
               DAU
                                          325,925,000,000
               DAK
                                            10,000,000,000
               Bagi Hasil Propinsi
                                            15,200,000,000




BELANJA
                                          416,150,000,000
        Belanja operasi
                                          303,750,000,000
        Belanja Modal
                                            75,000,000,000
        Transfer ke Desa
                                            35,000,000,000
        Belanja Tidak Terduga
                                              2,400,000,000


SURPLUS/DEFISIT
                                            (9,459,500,000)

Informasi tambahan:
§      Dana Bagi Hasil Dana Reboisasi untuk tahun 2009 sebesar Rp 3.000.000.000
§      Belanja wajib sebesar 60% dari total APBD tahun yang bersangkutan
§      Angsuran pokok pinjaman untuk tahun 2009 sebesar Rp 5.500.000.000; bunga Rp 1.200.000.000; dan
  Biaya lain terkait pinjaman sebesar Rp 100.000.000

Berdasarkan data tersebut, maka DSCR untuk tahun anggaran 2009 dapat di ketahui sebagai berikut:

DSCR= {PAD + [DBH – DBHDR] + DAU} – Belanja Wajib
                                                 Angsuran Pokok Pinjaman + Bunga + Biaya Lain

  =   {35.000.000.000 + [35.675.500.000 – 3.000.000.000] + 325.925.000.000} – 249.690.000.000
                             5.500.000.000 + 1.200.000.000 + 100.000.000

= 21,16

Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh nilai DSCR sebesar 21,16 yanga berarti pemerintah daerah dilihat dari kemampuan keuangananya layah untuk mengadakan pinjamna karena pemerintah daerah tersesbut masih memeiiki lemampuan yang cukup untuk mengemmbalikan pokok pinjamna beserta bunganya . Analisis DSCR ini bermanfaat bagi pemerintah daerah yang akan menggunakan instrument pembiayaan anggaran melalui pengadaan pinjaman daerah .


Debt Servis Ratio
      Debt Servis Ratio (DSR) merupakan rasio untuk mengukur kemampuan pemerintah daerah dalam membayar kembali pinjaman daerah meliputi pkoko dan bunganya dengan pendapatan daerah yang dimilikinya. Sama halnya ddengan DSCR , DSR bermanfaat untuk mengukur kemampuan finansial pemerintah daerah dalam menaggung beban hutang , yaitu pokok dan bunga dengan total pendapatan daerah yang dimilkinya. Rasio DSR ini dapat digunakan untuk mendukung analisis DSCR. JIka dibandingkan dengan DSCR , maka DSR kurang detail sebab hanya melihat besaran makro total pendapatan daerah , sedangkan DSCR mengukurnya berdasarkan pendaptana daerah setelah dikurangi belanja wajib dan disesuaikan dengan dana bagi hasil dana reboisasi . Rasio DSR dirumuskan sebgai berikut :

Debt Service Ratio = Total Pendaptan Daerah
                                    Pokok pinjaman + Bunga             






Sebagai berikut adalah proyeksi bunga dan pokok utang pemerintah daerah serta perhitungan debt service ratio :
Keterangan
2005
2006
2007
2008
Total Pokok
                13,200,000,000
           33,900,000,000
          35,500,000,000
         40,000,000,000
Bunga
                  1,827,279,420
             4,199,291,322
          43,411,293,321
            5,041,319,356
Total Pokok  dan Bunga
                15,027,279,420
           38,099,291,322
          39,841,129,321
         45,041,319,356
Total Pendapatn
             393,935,739,496
         428,715,390,600
        457,855,429,750
       489,937,142,500
DEBT SERVICE RATIO
26,21
11,25
11,49
10,87

Sama halnya dengan DSCR , nilai DSR yang harus dimiliki pemerintah daerah minimal sebesar 1. Jika kurang dari 1 maka mengindikasikan adanya kesulitan keuangan di pemerintah derah . Dengan menggunakan Ilustrasi diatas terkesan pemerintah daerah sngat ekspansif yang ditandai dengan semakin besarnya hutang dan adanya kecenderungan menurunnya tingkat DSR. Namun jika melihat besran angka DSR-nyamaka secara teoritis kondisi keunagan pemerintah daerah msih dalam taraf yang cukup aman . Pemerintah daerah cukup mampu untu k membayar beban utangya dengan pendapatan yang dimiliknya

7.      Rasio utang Terhadap Pendapatan Daerah
Selain dilihat dari rasio DSCR , kinerja pinjaman daerah juga dapat dilihat dari rasio utang terhadap pendapatan (debt to income ratio ) . Rasio ini sudah dibahas pada rasio DSCR yang lebih cenderung dugunakan oleh pihak internal manajemen pemerintah daerah , sedangkan rasio utang terhadap pendapatan daerah snagat bermanfaat bagi pihak eksternal terutama calon kreditur untuk menilai lemampuan pemerintah derah dalam mengembalikan pinjeman .Rumus rasio adalah sebagai berikkut :

Rasio Utang Terhadap pendapatan  = Total Uang Pemerintah Daerah
                                                                    Total Pendapatan daerah

Analisi Potensi pendaptan Asli Daerah
Analisi potensi ini bermanfat bagi manjemen pemerintah daerah maupun calon investor untuk memberikan pertimbangan tentang potensi penrimaan ynag msih dapat digali dan potensi keuntungan berinvestasi . Analisi potensi PAD dilakukan unttuk mengetahui jenis pajak daerah dan retribusi daerah tertentu apakah masuk katagori potensi ,prima , berkembang , taukah terbelakang . Selanjutnya setelah diketahui potensinya tehap berikutnya dapat diamabil kebijakan untuk jenis pajak dan reribusi dearah yang dikatagorikan potensi dan berkembang dapat dilakukan intensifikasi dan ekstensifikasi , untuk katagori prima perlu dilakukan intensifikasi dan untuk katagori terbelakang dapat 
Dilakukan peninjauan ulang tau bahkan penghapusan . Untuk dapat memetakan katgori potensial , prima , berkembang , dan terbelakang  tersebut perlu dibuat matriks potensi pajak dan tretribusi sebagai berikut :
PROPORSI
Yi > 1
Yi>  1

PRIMA
PERKEMBANGAN

POTENSIAL
TERBELAKANG


Ket. :
Yi :Penerimaan pajak atau retribusi I pada tahun t
Y  : NIlai rata- rata pajak atau retribusi pada tahun t
∆Yi          : Tambahan Penerimaan jenis pajak atau retribusi I pada tahun t
∆Y           : Tambahan Penerimaan Pajak atau retribusi pada tahun t

Sementara itu , untuk mengetahui ∆Yi dan ∆Y dihitung dengan rumus sebagai berikut :
∆Yi =Y i , tahun t -  Y i , tahun (t-1)   x 100 %
                       Y i , tahun t
∆Y=  Y , tahun t -  Y tahun (t-1)   x 100 %
Y  tahun t
Yi             : Proposi suatu jenis pajak atau retribusi I dari rerata pajk atau retrebusi
Y
∆Yi          : Proporsi tambahan suatu jenis atau retribusi dari total tambahan penerimaan pajak atau retribusi
∆Y

Semakin besa proporsi suatu pajak atau retribusi dari rerata pajak atau retribusi , maka semakin layak pajak atau retribusi tersebut untuk diupayakan di masa mendatang . Sebaliknya , semakin kecil proporsi pajak atau retribusi tersebut maka upaya identifikasi mengenai kelayakan untuk dijadikan sumber penerimaan di masa datang perlu  diintensifkan . Sementara untuk proporsi tambahan , semakin besar proporsi tambahan suatu pajak atau retribusi dari total penerimaan pajak atau retribusi , maka semakin layak pajak atau retribusi tersebut untuk diupayakan peningkatannya. Sebaliknya , semakin kecil proporsi tambahan suatu jenis pajak atau retribusi maka upaya identifikasi mnegenai kelayakan untuk dijadikan mengenai kelayakan untuk dijadikan sumber penerimaan di masa mendatang perlu diintensifkan .

8.      Rasio Standar Penerimaan Pendapatan
Rasio standart penerimaan pendapatan bermanfaat untuk pengawawan dan pengendaliian manajemen pemerintah daerah dalam pelaksanaan pemungutan pendapatan daerah . Rasio srandar penerimaan pendapatan meliputi :
1.      Rasio Cakupan (Coverage Ratio )
2.      Rasio Biaya Pemungutan
3.      Rasio Biaya Pelayanan
4.      Rasio pemungutan
Rasio Cakupan
Rasio cakupan merupakan rasio yang digunakan untuk mengetahui tingkat keefektivan pemerintah daerah dalam merealisasikan potensi pendapatannya . Rasio cakupan ini merupakan stnadar keefektivan dalam pendaftaran dan pendataan subyek dan obyek pendapatan dibandingkan dengan potensi pendapatannya. Rasio cakuan dirumuskan sebagai berikut :
Rasio Cakupan pendapatan = Subjek / Objek Pendapatan Yang Terdaftar   x 100 %
                                                              Potensi Subjek / Objek pendapatan
Rasio Biaya Pemungutan
Rasio biaya pemungutan sama dengan rasio efisiensi penerimaan pendapatan sebagaimana sudah dijelaskan pada awal pembahasn . Rasio ini dihitung dengan cara membandingkan biaya yang dikeluarkan dalam rangka memperoleh pendaptan dengan pendapatan yang diperoleh , Agar rasio biaya pemungutan ini baik dalam arti efisien, maka biaya pemungutan harus ditekan seefisien mungkin agar pendapatan versih meningkat . Beberapa pemeintah daerah dalam rangka meningkatkan efisiensi pendapatan melakukan strategi outsourcing kepada pihak ketiga untuk penariakan pajak dan retribusi daerah tertentu , seperti pajak hotel dan restoran , retribusi parker , dan sebagainya . Bahkan outsourcing tersebut tidak terbatas pada level pemungutan (koleksi ) , tetapi juga tahap pendataan .

Rasio biaya Pelayanan
Rasio biaya pelyanan digunakan untuk mengukur efisiensi dalam penerimaan retribusi daerah . Rasio ini diukur dengan cara membandingkan biaya pelayanan yang dikeluarkan pemerintah daerah untuk memberikan pelayanan tertentu dengan pendapatan retribusi yang dipungut atas pelayanan tersebut . Idealnya pendapatan retribusi dapat mencukupi untuk menutup biaya pelayan yang telah dikeluarkan (cost recovery) bahkan diupyakan lebih besar agar diperoleh keuntungan . Rasio biya pelayanan dirumuskan sebgai berikut :
Rasio Biaya Pelayana Y =        Biaya Pelayanan  Yx 100 %
                                               Pendapatan Retribusi Y
Rasio Pemungutan
Rasio pemungutan merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur realisasi pemungutan pajak daerah dibandingkan dengan tunggakan dan tagihan baru . Rasio pemungutan ini juga merupakan bentuk dari rasio efektivitas pajak daerah . Rasio pemungutan dirumuskan sebagai berikut :
Rasio pemungutan =  Realisasi Penerimaan Pajak Daerah   x100%
                                       Tunggakan + Tagihan Baru Atau dengan rumus lain :
Rasio Pemungutan = Hasil tahun sekarang + tagihan tahun lalu   x  100 %
                                     Target tahun sekarang + tunggakan tahun lalu
Dari keempat jenis rasio standart tersebut , nilai yang menjadi standar untuk masing-masing rasio adalah sebagai berikut

RASIO STANDAR PENERIMAAN PENDAPTAN
NILAI
Rasio Cakupan (Coverage ratio )
95%
Rasio Biaya pemungutan
10%
Rasio Biaya pelayanan
90%
Rasio Pemungutan
95%


RINGKASAN
·         Pendapatan merupakan semua penerimaan Rekening Kas Umum Negara /Daerah yang menambah ekuitas dana lancer dalam periode tahun anggran bersangkutan yang menjadi hak pemerintah dan tidak perlu dibayar kembali oleh pemerintah . Pendaptan derah tidak sma dengan pemerintah daerah, bedanya terletak pada pengaruh terhadap ekuitas dana
·         Analisi pendaptan daerah dapat digunakan untuk mengavaluasi kinerja pemerintah daerah dalam melaksankan anggaran . Secara umum realisasi pendaptan dearah dinilai baik apabila melampaui target anggran , sebab anggaran pendpatan merupakan bats minimal yang harus dicpai daerah
·         Berdasarkab data pendapatan daerah yang disajikan dalam Laporan Realisasi Anggran , pembaca laporan keuangan dapat membuat berbagai analisi rasio keunagan berupa :
-Rasio kemandirian daerah
-Rasio Ketergatungan Daerah
-Derajat Dsentralisasi
-Rasio Efektivitas PAD
-Rasio Efisiensi PAD
-Rasio Efektivitas Pajak daerah
-Rasio Efisiensi Pajak Daerah
-Derajat Kontribusi BUMD
-Derajat Kontribusi BUMD
- Rasio Kemampuan Mengembalikan Pinjaman (Debt Service Coverage Ratio )
-Rasio pendapatan terhadap Utang 


By : Berbagai Sumber